Sel-sel otak manusia
berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya jumlah sel tersebut tidak berarti
apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan seorang manusia
adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical impulses)
antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain. (Lam
Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003).
Studi empiris membuktikan bahwa dari 100
milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak
seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa
92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan
rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang
menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar
dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).
Jika manusia modern
menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan istilah electrical
impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun yang lalu Imam
Syafi’i dan gurunya Imam Waki’ ‘mengistilahkannya’ sebagai Nurullah (Cahaya Allah).
Beliau dan gurunya Imam Waki’ berkeyakinan bahwa dasar daripada pemahaman dan
penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan adalah cahaya Allah yang
menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi pemahaman yang sederhana bisa
disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse pada sel-sel otak manusia dapat
dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas cahaya Allah dalam hati dan
pemikiran.
Sebuah riwayat
menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya tentang
kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya Imam Waki’
menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau
juga berpesan demikian, “Ilmu pengetahuan itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya
Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat maksiat.” Setelah
menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan Imam Syafi’i
terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh huruf pada
buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang didengarnya.
Orang yang diterangi
Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil Albab. Perkataan
Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya adalah akal. Maka
Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi
(Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi,
Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan mengimbas ‘cahaya Allah’ yang
timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu tercerahkan (enlighted) dan berhasil
menemukan fenomena-fenomena alam semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi
sumber inspirasi dalam dunia ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya
cara yang mereka contohkan agar ‘cahaya Allah’ berperan dalam memacu kekuatan
arus listrik pada sel-sel otak adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan
meninggalkan kemaksiatan. Firman Allah:
“Dan bertakwalah kepada
Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui akan
segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)
Ayat di atas merupakan
rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang paling efisien untuk
mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran, ketumpulan analisa dan
kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan
dalam sanubari mereka. Inilah cara yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk
melejitkan interaksi arus listrik (electrical impulse) antara axon dengan
dendrite dalam otak.
Lebih menarik lagi untuk
disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh peneliti ahli dalam bidang
neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S. Ramachandran. Mereka berdua
menemukan adanya ‘Titik Tuhan’ (God Spot) dalam belantara otak manusia. Lebih
rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada sebuah area di sekitar lobus temporal
otak yang bersinar saat seseorang diajak untuk berdiskusi dan merenungkan
hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut juga menunjukkan peningkatan
aktivitas saat seseorang menerima wejangan rohani atau renungan
keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah ada suatu mekanisme
khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan dengan Pencipta alam
semesta. Dan sesungguhnya ‘hubungan’ (atau lazim disebut dalam Islam dengan
ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia dan
melejitkan kemampuan akalnya.
Kita sama-sama memahami
bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan pengalaman lima panca indra
manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba). Seluruh apa
yang dialami oleh lima indra tersebut berupa rangsangan pengalaman (impulse)
diterima oleh saraf penerimaan (receptor neurone) untuk selanjutnya dianalisa
oleh saraf sensor (sensory neurone). Kesemua proses ini terjadi dengan adanya
interaksi arus listrik dalam sel-sel otak sehingga manusia mampu membentuk
suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan respon fisik (motoric neurone).
Sebesar mana proses interaksi
arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat pengalaman lima indra itu,
sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan dalam otak. Maka wajarlah jika
timbul perbedaan sudut pandang antara manusia yang cerdas (yang memiliki
kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya) dengan orang
awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus listrik pada sel-sel
otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang dilihat, dirasa, dan
didengarnya. Firman Allah SWT:
“Perbandingan dua
golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan
mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah
kamu mengambil pelajaran?” (Surah Hud 11: 24)
Ayat di atas mengesahkan
fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu pengetahuan. Tentu yang
dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini bukanlah alat indra mata
atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama. Tetapi kadar kemampuan
sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang dideteksi oleh indra-indra
tersebut.
Jika kita yakin dengan
firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar Neuropsikologi tentang
‘God Spot’, maka tentulah kita berkesimpulan bahwa pencapaian manusia dalam
melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung kepada sebanyak mana ia
menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits Qudsi berikut dapat kita
pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para ulama zaman silam ternyata
bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam menambah cahaya Allah dalam diri.
Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt berfirman dalam hadits Qudsi:
“Jika HambaKu senantiasa
mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal yang Sunnah, maka ia akan
kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang menjadi pendengaran yang ia mendengar
dengannya, Aku menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah
yang ia bertutur dengannya dan Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya.
Jika ia berdoa kepadaku niscaya Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku
niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku
tolong. Ibadahnya yang paling Aku cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya
untukKu” (Hadits Qudsi Riwayat at-Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber
dari Abu Umamah)
Jelas sekali
diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang banyak
melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada
penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para
ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran,
pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi panca
indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh hasil
bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya diproses
oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.
Rangkuman dari semua
kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang unggul dalam bidang
apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia menjadi pakar ilmu
pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah menjadi manusia Eropa
pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan karena menyandera pakar
pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat itu sudah mengarang tiga
kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang kedokteran maka ia menjadi
dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine nya masih
menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji hingga hari ini), jika ia
menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan misteri angka dan bentuk
yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia matematika; Al-Jabar,
Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-Khawarizmi) dan jika ia
menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan rakyat karena membawa
kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya (Umar bin Abdul Aziz
menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi orang yang memerlukan
bantuan).
Penulis teringat dengan
kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada kulit kitabnya yang
monumental; al-Muwattha’ , “Tidak akan sukses generasi akhir dari umat ini,
melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah mensukseskan
generasi pertama.”
Kita yang hidup pada
akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses ‘try and error’ dalam
menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian yang benar adalah
pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin, yang dengan mudah kita
dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti melantunkan Al-Quran yang merupakan
kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud tahajud yang panjang, shalat-shalat
sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura’,
puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dapat menaikkan
derajat kita menjadi orang yang dicintai Allah. Ingatlah betapa hadits di atas
menerangkan bahwa jika Allah telah mencintai seseorang maka orang itu dapat
melihat, mendengar, berbicara dan berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah.
Inilah inti daripada kecerdasan spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan
motor penggerak terhadap kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan
kecerdasan emosional (Emotional Quotient).
Wallahu A’lam Bis
Showab.
